Lingkaran Setan Pemilu, Kita Mau Mengikuti atau Berhenti?

Oleh: Qithfirul Aziz *

Pemilihan Umum (Pemilu) secara substansial menjadi langkah awal tataran pemerintahan baru akan dimulai. Salah satunya di Indonesia, dimana Pemilu bukan hanya momen ‘pesta rakyat’ melainkan fase perubahan sosial atau adaptasi baru masyarakat dalam menerima sistem pemerintahan yang sering kali berubah.

Salah satunya dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang dilakukan setiap 5 tahun sekali. Masyarakat akan kembali ‘dipaksa’ untuk menerima perubahan yang pada dasarnya hanya untuk membuktikan legasi tokoh pemimpin untuk generasi setelahnya. Tapi justru disitulah terkadang pemimpin belum mampu menciptakan sebuah perubahan, program atau bahkan kebijakan yang mengacu pada kesejahteraan masyarakat. 

Lantas, apakah kita telah berhasil menerapkan sistem demokrasi untuk memilih pemimpin berdasarkan suara terbaik? Atau justru kita telah menjadi apatis untuk mengikuti sistem pemilihan berdasarkan suara terbanyak?!

Namun justru itulah yang penulis rasakan hari ini. Sistem pemilihan yang mengutamakan ‘pemenang’ dalam suara terbanyak justru menimbulkan praktik-praktik yang apatis. Peserta yang mengikuti kontestasi pemilihan suara justru mengambil celah untuk membeli suara masyarakat, sehingga mampu mengumpulkan suara ‘terbanyak’. Atau bahkan masyarakat yang pada akhirnya enggan datang ke tempat pemungutan suara untuk mencoblos. 

Seolah ini menjadi lingkaran setan yang terus berulang disetiap perhelatan. Padahal secara prinsip, memilih pemimpin harus berorientasi pada Fiqh Prioritas (Fiqh Aulawiyat) yang dimana pada kondisi sulit, sebaiknya mengambil pilihan calon yang memiliki daya kerusakan atau "keburukannya" lebih sedikit sehingga tidak membiarkan kerusakan lebih besar terjadi.

Sedangkan untuk memilih calon pemimpin, perlu mempertimbangkan rekam jejak, moralitas dan integritas serta calon pemimpin yang memiliki kebijakan yang berpihak pada masyarakat. Sehingga melalui gerakan kolektif tersebut masyarakat dapat memutus ‘lingkaran setan’ yang terjadi.

***

*) Penulis merupakan Ketua HMI Cabang Blitar

Bagikan:

facebook twitter whatapps

Dilihat 124 Kali.