Ada Politik di Sepiring Nasimu
Oleh Handayani Ermono Putri* ‘‘Politik itu tidak penting‘‘ ‘‘Tidak perlu peduli politik. Politik itu kotor dan tidak ada pengaruh di hidup ku‘‘ Kalimat yang familiar bukan, kerap terdengar di telinga maupun berbagai kolom komentar sosial media. Terasa aman, seolah menjauh dari politik hidup lebih tenang tidak perlu pusing perihal debat maupun ribut perihal kekuasaan. Seakan jika menjauh dari politik adalah pilihan tepat tidak akan terganggu sedikit pun perihal poitik. Tapi tapi tapi... Coba berhenti sejenak, coba tengok sepiring nasi di depanmu. Izin... Apakah benar sepiring nasi dengan lauk-pauk di depanmu itu bebas dari politik? Atau jangan-jangan setiap sendoknya ada bumbu-bumbu politik yang mungkin enggak terasa di lidahmu? Nasi di piring, Katanya kita hidup di negeri agraris, tanah subur, sawah luas, dan petaninya berjuta-juta. Namun setiap kali harga beras naik, kita panik. Mungkin harga beras yang diumumkan Badan Pusat Stastistik hanya seperti angka di kanal berita. Tapi bagi buruh harian bisa jadi angka itu akan mengurangi jatah makannya. Bagi seorang ibu, harga itu berarti ada sendok nasi yang dikurangi atau lauk yang mungkin akan dikurangi, agar cukup dengan isi dompet. Ketika Perum Bulog berbicara soal stok dan distribusi, mungkin rakyat tidak peduli dengan istilah-istilah yang terpampang. Mereka hanya memandang apakah harga di pasar akan naik atau tetap terjangkau. Masih mampu membeli atau harus menghitung ulang uang di tangan. Stabil atau tidak itu bukan hanya perihal angka yang terpampang, tapi soal hati yang tenang atau gelisah saat berdiri di depan penjual. Dan ketika Kementerian Pertanian membuat kebijakan, dampaknya terasa dari sawah sampai dapur rumah. Petani berharap hasil panennya punya harga layak yang tak menimbulkan kerugian. Sementara masyarakat berharap mampu makan tanpa penuh kecemasan perihal harga. Beras menjadi nasi terlihat sederhana, tapi ternyata ada kebijakan yang menentukan kenyataan di atas meja makan. Semua itu bukan peristiwa alam tapi ada keputusan, dan setiap keputusan adalah politik. Lantas bagaimana ini lauk yang menemani nasimu itu? Terlihat sederhana, digoreng atau ditumis ditambahkan sambal, selesai, cukup untuk mengisi perut bukan? Apakah mereka tidak berbau politik? Coba kita cium aromanya. Lauk dan Temannya, Tidak ada ikan yang muncul begitu saja di piring. Nelayan harus berlayar menembus ganas ombak dengan harapan tangkapan di laut cukup untuk menutup biaya solar yang dikeluarkan selama pelayarannya. Lantas bagaimana ketika BBM naik atau solar subsidi sulit didapat? bukan hanya mesin perahu yang tersendat tapi harapan hidup mereka ikut sekarat. Belum lagi nelayan terhimpit kebijakan zonasi atau pembatasan wilayah, bahkan konflik ruang seperti persoalan “Pagar laut” yang membatasi area tangkapan. Ketika nelayan tidak berlayar karena hasil tangkapan tak sebanding dengan ongkos yang mencekik, harga ikan di pasar naik. Ketika naik ada seorang ibu di rumah mulai menimbang dan menghitung ulang, memilih membeli ikan atau cukup dengan tempe. Sayangnya, tempe dan tahu pun tidak bebas dari kebijakan. Bahan bakunya kedelai yang masih bergantung pada impor, menyebabkan ketika kebijakan berubah dan nilai tukar bergejolak, harga ikut melonjak. Ayam dan telur juga mengalami hal serupa, tidak bebas dari kebijakan. Harga pakan, distribusi, dan regulasi pasar bukan hanya ditentukan oleh kandang semata, tapi oleh keputusan yang jauh dari kandang itu sendiri. Bahkan cabai yang digunakan sebagai pelengkap di sudut piring tak luput dari pedas kebijakan. Sambal menjadi hambar karena lonjakan harga, ia terdampak kondisi distribusi dan tata niaga yang tidak terkendali. Sayur mayur dari petani berharga murah saat panen raya, tapi punya harga berkali-kali lipat di kota karena pengaruh rantai distribusi panjang dan regulasi. Sepiring nasi lengkap dengan lauknya adalah potret kebijakan yang saling terkait. Petani, nelayan, peternak, pedagang semuanya berdiri di atas keputusan yang dibuat di ruang-ruang kekuasaan, bukan diputuskan semata oleh takdir. Namun ironisnya, masih banyak kita jumpai ucapan‚‘‘Politik tidak berpengaruh dihidupku”. Padahal dengan menelisik sedikit sajian di atas meja makan, kita dapat menyadari politik itu terasa pada setiap suap. Politik mengatur harga nasi yang kita makan, ikan yang kita goreng, telur yang kita rebus, dan cabai yang kita gerus menjadi sambal atau bahkan garam gula yang memberi cita rasa. Politik bukan hanya debat di televisi atau kampanye di jalan. Politik adalah keputusan tentang harga pangan, tentang subsidi, tentang siapa yang diuntungkan dan siapa yang harus menanggung akibatnya. Karena itu, mengatakan politik tidak berpengaruh pada hidup kita adalah tidak sepenuhnya benar. Setiap hari kita merasakan dampaknya diberbagai tempat entah di pasar, di dapur, maupun di meja makan. Bangsa ini pernah berbicara tentang kemandirian. Soekarno pernah menekankan pentingnya berdikari (Berdiri Di Atas Kaki Sendiri), termasuk dalam urusan pangan. Sebab kemerdekaan tidak hanya soal bendera dan lagu kebangsaan, tetapi juga soal apakah rakyatnya bisa makan dengan layak. Apalah arti negeri agraris jika petaninya tetap hidup sulit? Apalah arti negara maritim jika nelayannya takut melaut karena harga BBM melambung tinggi? Ketika rakyat menjauh dari politik, keputusan tetap akan dibuat. Harga tetap akan ditentukan, aturan tetap berjalan. Golput (Golongan Putih) kerap dianggap sebagai bentuk protes oleh masyarkat. Sebagian merasa dengan tidak memilih, mereka menjaga jarak dari politik yang dianggap kotor dan aman. Tetapi apakah dengan tidak memilih, kebijakan berhenti dibuat? Tidak... Harga akan tetap ditentukan, impor tetap diputuskan, subsidi tetap dialokasikan atau dicabut dan aturan laut tetap disahkan serta harga BBM tetap berubah. Mau tidak mau segalanya akan diputuskan oleh mereka. Sayangnya tanpa partisipasi kita. Dengan tidak memilih bukan berarti keluar dari politik dan politik tidak menjangkau mu, itu hanya berarti menyerahkan keputusan pada orang lain. Mungkin kepada mereka yang tidak merasakan sulitnya membeli beras dan lauk pauknya untuk keluarga, atau pada mereka yang tidak pernah bingung menghadapi kelangkaan dan harga BBM. Setiap suara yang diberikan merupakan kesempatan untuk ikut andil menentukan arah. Bukan untuk fanatik pada siapa pun, tapi untuk memastikan bahwa kebijakan tidak sepenuhnya lepas dari pengawasan rakyat. Karena sepiring nasi lengkap dengan lauknya adalah hasil politik, maka salah satu cara rakyat ikut menentukan keputusan adalah memberikan suaranya di bilik suara pemilu. Selama kita masih makan nasi, selama kita masih belanja di pasar, selama kita masih merasakan naik turunnya harga kebutuhan sehari-hari, politik akan selalu hadir dalam hidup kita. Ia mungkin tidak terlihat, tetapi ia ada di sepiring nasi, di ikan yang kita goreng, di tempe yang kita makan, dan di sambal yang kita nikmati. Karena itu, sebelum mengatakan politik tidak penting, coba lihat lagi meja makanmu. Di sana, politik sebenarnya sedang ikut duduk bersama kita. * penulis merupakan masyarakat Kota Blitar dan alumni Universitas Jember.
Selengkapnya